
Gak Pate'en !
Friday, September 28, 2007
Kemaren malem saya sempet menghadiri acaranya Cak Nun di Balai Pemuda Surabaya dengan komunitas teranyarnya saat ini “BangbangWetan” saudara termuda dari komunitas-komunitasnya terdahulu setelah Pdhangmbulan Jombang, Haflahsholawat, Mocopatsyafaat Jogja, Gambangsafaat Semarang, Kenduricinta Jakarta dan Oborilahi Malang.Saya sempet tertarik dengan bahasan kata “Gak Pate’en” yang sempet dibahas Cak Nun waktu itu, bahasa arabnya “La Ubali” yang kalau kita telusuri kata itu sudah ada sejak jaman Rosulullah SAW, yaitu pada waktu perang Badar dengan pasukan lebih sedikit dari musuh dan dengan kondisi prajurit yang jauh dari kesan prajurit alias gak ono potangan blas dadi prajurit di tambah lagi gak sahur lan gak buko.
Pada waktu itu Rosulullah tidak berdoa “Ya Allah Menangkanlah Pasukan Islam” tapi beliau bersabda pada mereka “ Wahai para prajurit perang Badar yang sangat lemah, jangan cemas kalian dengan kelemahan kalian karena kalian akan di tolong oleh Allah, kalian akan diberi kemenangan oleh Allah dan kalian akan dilimpahi rizki oleh Allah. Tetapi harap di ingat bahwa kemenangan kalian tidak karena kondisi kalian, melainkan karena komitmen kalian kepada orang-orang lemah yang kalian bela” jadi kemenangan itu akan diberikan oleh Allah kalau hatimu berada pada kaum yang lemah.
Tapi dalam kesempatan yang lain Nabi ngomongnya lain sama Allah dalam tanda petik “Gusti kulo sampean gawe kalah kulo manut, pasukan islam akeh seng mati gak masalah, kulo mboten pate’an. in lam takun alaina ghodzobun la ubali (pokoe anggere sampean gak muring-muring dateng kulo gusti, Gak Pate’en ). Bukannya Rosulullah angkatangan dalam hal ini, tapi lebih kepada rasa kerelaan dan kepasrahannya kepada Allah. Kalau kita rela mati maka tingkat kemenagan itu pun akan semakin besar, kita jadi lebih berani dan tanpa beban, tapi kalau kita tidak rela mati maka kita akan gampang untuk dikalahkan. Membunuh seorang pengecut tentunya akan lebih mudah dari pada membunuh seorang Pemberani.
Kata “Gak Pate’en” sebenarnya sangat dekat sekali dengan masyarakat Jawa utamanya Jawa Timur dan lebih khususnya lagi arek-arek Suroboyo dengan BONEKnya alias bondo nekat, yang cukup berhasil membangkitkan semangat optimisme mereka dari jaman penjajahan belanda hingga bisa melahirkan Hari Pahlawan dan sampai saat ini jiwa bonek itu masih melekat walaupun jiwa kepahlawanannya agak sedikit memudar.
Nang Jakarta, nduwe duek gak nduwe duwek, gak pate’en, Pokoe nang Jakarta. Nyambut gawe gak nyambut gawe, gak urusan, gak pate’en, pokoe aku arep rabi. Dadi lurah gak dadi lurah gak pate’en, seng penting oleh jatah :) . Selemah apa pun kita, gak urusan, gak pate’en, seng penting kita tetep berjuang , tetep optimis dan tetep punya semangat hidup.
Semoga rasa optimisme tersebut senantiasa menyertai dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin !.















