
Berkah Yang Indah
Sunday, January 6, 2008
"Yang kalian benci dan kalian singkirkan itu mungkin justru lebih baik dan kalian perlukan. Sementara yang kalian junjung-junjung tiap hari itu mungkin yang berbahaya bagi kalian"
Adalah seorang penjual tape keliling yang harus melewati pematang sawah terlebih dahulu untuk bisa sampai pada mobil pengangkut dia dan para pedagang lainnya ke pasar pinggir kota.
Tapi nasib sial menimpa si penjual tape, dia terpeleset waktu berjalan melewati pematang sawah yang senpit dan licin itu. Hampir seluruh dagangannya kecebur ke dalam sawah yang penuh dengan Lumpur. Dia pun mulai mengumpat dan menyalahkan keadaan bahkan kadang-kadang sampai bawa-bawa nama Tuhan.
Dia pun lantas pulang ke rumah dengan keranjang dan kantong kosong, sambil tetap menggerutu menyesali barang dagangannya yang seketika habis dengan mudahnya.
Sesampainya di rumah dia langsung membersihkan keranjangnya yang penuh dengan Lumpur sawah, lalu kemudian melepas lelah dan kekesalannya atas kesialan yang baru saja menimpanya. Tak lama ia merebahkan tubuhnya di bale-bale rumah, dia mendengar berita kalau-kalau mobil yang akan dia tumpangi ke kota tadi pagi mengalami kecelakaan dan hampir seluruh penumpangnya dilarikan ke rumahsakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif.
Seketika itu dia bingung dengan apa yang harus dia ucapkan. Apakah dia harus mengucapkan "Innalillahi" sebagai perwujudan rasa simpatinya terhadap teman-temannya yang terkena musibah, atau "Alhamdulillah" sebagai perwujudan rasa syukurnya kepada Tuhan karena telah menyelamatkannya dari musibah yang tidak jadi menimpa dirinya.
Peristiwa yang tadinya dia anggap sebagai musibah, kini berubah menjadi berkah yang tak terkira baginya.
Kadang sesuatu yang kita benci, sesuatu yang tidak kita harapkan, sesuatu yang bahkan membuat kita ngeri walau hanya sekedar membayangkannya, justru merupakan hal yang terbaik bagi kita.
Kadang, berkah bagi seseorang bisa tampak sebagai bencana bagi yang lain.
Kita masih ingat bagaimana peristiwa yang terjadi pada Benjamin, saudara Nabi Yusuf yang di tangkap oleh prajurit kerajaan karena di tuduh mencuri barang berharga istana, padahal barang itu Nabi Yusuf sendiri yang menyelundupkan di kantong Benjamin, supaya Benjamin ditangkap dan dibawa ke kerajaan, dengan begitu Nabi Yusuf bisa dengan leluasa bercengrama dan melepas kerinduan dengan saudara tercintanya itu.
Keluarga dan saudara-saudaranya yang lain mungkin menganggap ini merupakan musibah bagi Benjamin, tapi justru ini merupakan berkah baginya sehingga dia bisa saling melepas rindu dengan Yusuf - saudaranya yang telah lama hilang dan dia kira sudah tiada.
Berbagai macam bencana melanda negeri kita akhir-akhir ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesabaran, pencerahan serta kesadaran untuk dapat mengambil hikma dari setiap kejadian yang menimpa kita. Sehingga kita pun bisa merasakan bahwa duka adalah juga berkah yang indah dari Tuhan.















