
photos
Wednesday, September 23, 2009
About
Tuesday, September 22, 2009

Lahir di Lamongan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan makanan khasnya “Soto Lamongan”, dia diberi nama Zainal Abiddin, tetapi sejak kecil biasa dipanggil Zen. Dia tumbuh di Desa Pucangtelu, sebuah desa sederhana namun bersahaja yang membuat ia berani bermimpi, berani bercita-cita dan berani megejar pelanginya.
Masa kecil ia habiskan di desa itu, bergelut dengan Lumpur sawah dan air tambak yang penuh dengan bahan kimia. Seperti anak desa pada umumnya, sekolah dipagi hari, bermain disiang hari dan disore hari sudah harus di musolah untuk antri mengaji.
Selepas dari Madrasah Ibtidaiya, ia putuskan untuk meninggalkan rumah. Bukan! Bukan karena diusir atau tidak betah tinggal dirumah, tetapi lebih karena tuntutan diri untuk bisa lebih mandiri diusia dini dan sebagai penghargaanya terhadap nilai luhur ilmu pengetahuan yang sebagian besar tak kan dapat diperoleh tanpa pengorbanan. Hari-hari pertama meninggalkan rumah terasa sulit baginya, ia harus benar-benar mandiri, bahkan hanya untuk makan sehari-hari pun ia harus masak sendiri walau hanya dengan panci bekas kaleng susu yang sudah tidak terpakai. Tetapi dari sana justru muncul kecintaannya terhadap ilmu culinary. Tiga tahun ia habiskan di PP. Tanwirul Qulub dan MTs. Putra-Putri PP. Matholi’ul Anwar Sungelebak Lamongan.
Setelah dari MTs. Ia memutuskan untuk keluar daerah tetapi masih di Jawa Timur, ia kemudian melanjutkan studinya ke MAN Tambakberas PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Disana disamping mendalami ilmu agama, ia mulai belajar berorganisasi dan mulai tertarik pada seni, kesusastraan dan dunia desain. Tiga tahun ia habiskan masa remajanya disana.
Selepas dari MAN, ia berkeinginan untuk melanjutkan studinya ke universitas, tetapi Tuhan berkehendak lain dan mengizinkannya untuk kemudian melanjutkan studinya di School of Business Malang dan ditahun yang sama pula ia belajar di Lembaga Pendidikan Management Bisnis dan Komputer Malang sambil bekerja paruh waktu dibeberapa perusahaan di kota Malang. Satu tahun ia habiskan di kota dingin itu dengan berbagai aktifitas yang banyak menyita waktu.
Setelah dari Malang, ia kemudian hijrah ke kota Surabaya untuk mengadu nasib, dan alhamdulillah ia diterima disuatu perusahaan jasa di kota pahlawan ini. Di sini ia mulai tertarik dengan dunia photografi dan mulai bergabung dikomunitas photografi. Sambil bekerja ia terfikir untuk mengejar mimpinya untuk bisa mengenyam pendidikan di bangku universitas dan alhamdulillah Tuhan akhirnya mengizinkannya untuk bisa menimba ilmu di Universitas Negeri Surabaya Fakultas Teknik Program Studi Pendidikan Tata Boga.
















